Minggu 6 September 2026 - 21:06
Keseimbangan Kekuatan Global Sedang Berubah, Umat Islam Hendaknya Berperan dengan Persatuan dan Kebijaksanaan

Hawzah/ Hujjatul-Islam Sayyid Riza Haidar Zaydi, dengan merujuk pada perubahan cepat di dunia dan pergeseran keseimbangan kekuatan internasional, menekankan pentingnya persatuan, kewaspadaan, dan peninjauan ulang strategi umat Islam. Beliau menyatakan: Umat Islam harus mempersiapkan diri menghadapi perubahan baru dunia dengan menjaga kohesi dan memperkuat semangat perlawanan.

Berita Hawzah – Hujjatul-Islam wal-Muslimin Sayyid Riza Haidar Zaydi, direktur Hawzah Ilmiyah Hazrat Ghufran Ma'ab Lucknow, dalam khotbah Jumat di Masjid Asifi kota tersebut, mengatakan: Umat Islam harus mempersiapkan diri menghadapi perubahan baru dunia dengan menjaga kohesi dan memperkuat semangat perlawanan.

Keseimbangan Kekuatan di Dunia Sedang Berubah

Ia, dengan merujuk pada perkembangan dan kondisi dunia saat ini, menyatakan: Dunia sedang melewati periode sejarah yang penting, dan keseimbangan kekuatan global sedang berubah dengan cepat. Selama beberapa abad terakhir, kekuatan-kekuatan Barat telah mendominasi dan memiliki pengaruh luas di berbagai bidang global, namun perkembangan terkini telah mengungkapkan tanda-tanda pergeseran pusat kekuasaan ke arah Timur.

Ulama India ini, dengan menekankan bahwa umat Islam harus mengikuti perubahan-perubahan baru dunia dengan lebih cermat, mengatakan: Dalam situasi di mana dunia sedang berubah, umat Islam juga harus meninjau ulang status quo, pola pikir, dan strategi mereka; karena perpecahan, perselisihan, dan kelemahan dapat mengancam eksistensi dan masa depan setiap bangsa.

Penekanan pada Pentingnya Kewaspadaan dalam Menghadapi Perkembangan Regional

Direktur Hawzah Ilmiyah Hazrat Ghufran Ma'ab Lucknow, dalam kelanjutan pidatonya dengan merujuk pada perkembangan di Iran, Yaman, Lebanon, dan Palestina, menyatakan: Republik Islam Iran selama bertahun-tahun telah menghadapi berbagai sanksi dan tekanan, namun arus perlawanan dan semangat ketahanan di negara tersebut masih terus berlanjut.

Ia juga menekankan pentingnya meningkatkan literasi media dan menghindari penerimaan berita tanpa verifikasi, serta mengatakan: Kita tidak boleh menerima begitu saja setiap berita yang disebarkan melalui media tanpa dikaji terlebih dahulu; melainkan perlu mengevaluasi sumber utama berita, kebenarannya, serta tingkat kredibilitas informasi yang dipublikasikan.

Ulama India ini, dengan merujuk pada perkembangan di Palestina dan terutama krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, menekankan pentingnya mengakhiri kezaliman dan ketidakadilan serta melindungi nyawa warga sipil. Ia mengatakan: Masyarakat internasional harus menjalankan tanggung jawabnya dengan baik dalam menghadapi situasi ini.

Masalah Ekonomi; Kesabaran dan Keteguhan dalam Kondisi Sulit

Hujjatul-Islam Sayyid Riza Haidar Zaydi, dengan merujuk pada masalah kenaikan harga dan kesulitan ekonomi di dunia, mengatakan: Meningkatnya biaya hidup dan masalah ekonomi tidak terbatas hanya pada satu negara atau wilayah tertentu, dan banyak negara di dunia menghadapi tantangan-tantangan ini.

Ia menambahkan: Dalam kondisi seperti ini, masyarakat dan berbagai komunitas lebih dari sebelumnya membutuhkan kesabaran, keteguhan, kerja sama, dan pengambilan keputusan yang bijaksana.

Perlawanan (Resistensi) Tidak Hanya dengan Senjata

Di bagian lain pidatonya, dengan merujuk pada situasi Yaman, ia menyatakan: Perang tidak hanya terjadi dengan senjata dan perlengkapan militer, melainkan semangat, tekad, keberanian, dan keteguhan juga merupakan faktor-faktor penting dalam menghadapi musuh dan bertahan terhadap tekanan-tekanan.

Dalam konteks ini, ia juga merujuk pada sikap Syahid Perlawanan, Hujjatul-Islam wal-Muslimin Sayyid Hasan Nasrallah, dan menekankan pentingnya semangat perlawanan, keberanian, dan tidak takut dalam menghadapi musuh. Ia mengatakan: Pengalaman perlawanan telah menunjukkan bahwa keteguhan dan pemeliharaan semangat memainkan peran penting dalam menghadapi tekanan dan ancaman.

Penekanan pada Perlindungan Lingkungan Hidup

Hujjatul-Islam Riza Haidar Zaydi, dengan merujuk pada terjadinya banjir dan kondisi badai di Nepal, mendoakan keselamatan jiwa dan harta para korban serta penyelamatan mereka dari dampak bencana alam tersebut. Ia juga menekankan pentingnya perhatian manusia yang lebih besar terhadap alam dan lingkungan hidup, seraya menyatakan: Manusia harus meninjau ulang perilakunya terhadap lingkungan alam dan ekosistem; karena perlindungan alam dan sumber daya alam bukan sekadar tugas lingkungan hidup, melainkan secara langsung terkait dengan kelangsungan hidup manusia dan masa depan generasi mendatang.

Ia menambahkan: Menjaga sumber daya alam dan lingkungan hidup pada hakikatnya adalah menjaga kehidupan manusia dan masa depan generasi mendatang, dan semua individu serta komunitas harus merasa bertanggung jawab dalam hal ini.

Persatuan Tidak Berarti Meninggalkan Keyakinan

Hujjatul-Islam Sayyid Riza Haidar Zaydi, dengan merujuk pada momen-momen di bulan Rabiul Awal, menyatakan bahwa kelahiran suci Nabi Muhammad Mustafa Saww dan kelahiran Imam Ja'far Shadiq as merupakan peristiwa terpenting dan terbesar di bulan ini. Ia mengatakan: Pekan Persatuan yang diselenggarakan dari tanggal 12 hingga 17 Rabiul Awal mengusung pesan persatuan, solidaritas, dan integrasi di antara umat Islam.

Ia menekankan: Persatuan dan kesatuan Islam tidak berarti mengubah keyakinan, meninggalkan kepercayaan agama, atau melepaskan prinsip-prinsip akidah; melainkan umat Islam, di samping tetap teguh pada keyakinan mereka masing-masing, dapat berfokus pada kesamaan dan prinsip-prinsip yang disepakati oleh seluruh umat Islam.

Dosen hawzah ini menambahkan: Perselisihan dan konflik di antara umat Islam akan melemahkan kapasitas dan potensi umat Islam, sementara persatuan dan solidaritas dapat meningkatkan kekuatan umat Islam serta menjadi landasan bagi martabat dan kemajuan umat Islam.

Tujuan Diutusnya Para Nabi as adalah Menegakkan Keadilan di Masyarakat

Ulama India ini selanjutnya, dengan menjelaskan filosofi diutusnya para nabi ilahi, merujuk pada firman Allah dalam QS. Al-Hadid [57]: 25 dan mengatakan: Allah SWT mengutus para nabi-Nya dengan membawa bukti-bukti yang jelas, kitab-kitab, dan neraca (keadilan) agar manusia menegakkan keadilan dan melaksanakan hukum yang adil di tengah masyarakat.

Ia menambahkan: Tujuan diutusnya para nabi dan rasul ilahi bukan sekadar untuk mengenang mereka dan menyebutkan keutamaan-keutamaan mereka; melainkan yang terpenting adalah agar manusia mengamalkan ajaran-ajaran mereka dalam kehidupan pribadi dan sosialnya.

Pakar keagamaan ini, dengan merujuk pada QS. Al-Ahzab [33]: 21, menyatakan bahwa Nabi Agung Islam Saww adalah teladan dan suri tauladan terbaik bagi orang-orang beriman. Ia menegaskan: Umat Islam hendaknya menjadikan sirah dan perilaku Rasulullah Saww sebagai panutan dalam berbagai aspek kehidupan mereka, serta mengambil manfaat dari ajaran-ajaran beliau Saww dalam perjalanan menuju pertumbuhan spiritual dan akhlak.

Mengingat Allah (Dzikrullah); Jalan untuk Memperkuat Hubungan Spiritual dengan Tuhan

Hujjatul-Islam Sayyid Riza Haidar Zaydi juga, dengan menjelaskan konsep "dzikr katsir" (banyak berdzikir), merujuk pada keutamaan tasbih (dzikir) Sayyidah Fatimah Zahra as dan mengatakan: Tasbih Sayyidah Zahra as meskipun singkat dan sederhana, memiliki kedudukan yang luhur, dan istiqamah (kontinuitas) dalam membacanya dapat senantiasa mengingatkan manusia kepada Allah swt.

Ia menambahkan: Dzikir kepada Allah tidak hanya sekadar melafalkan dzikir di lisan, melainkan juga harus membawa perhatian hati manusia kepada Tuhannya serta memperbaiki perilaku dan gaya hidupnya.

Ilmu Tanpa Penyucian Diri Dapat Menjerumuskan Manusia ke Dalam Kesesatan

Di bagian lain pidatonya, dengan merujuk pada doa Nabi Ibrahim as dan firman Allah dalam QS. Ali 'Imran [3]: 164, ia menekankan pentingnya penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs) di samping perolehan ilmu dan pengetahuan. Ia mengatakan: Salah satu tujuan diutusnya Nabi Muhammad Saww adalah membacakan ayat-ayat Ilahi, menyucikan manusia, dan mengajarkan kitab serta hikmah.

Hujjatul-Islam Riza Haidar Zaydi menyatakan: Jika seseorang memperoleh ilmu pengetahuan namun tidak menyucikan dan membersihkan jiwanya, maka ilmu tersebut bukannya membimbingnya, melainkan justru dapat menjadi sebab kesesatannya.

Untuk menjelaskan hal ini, ia memberikan sebuah perumpamaan dan mengatakan: Jika sebuah wadah atau gelas kotor, meskipun air suci dan jernih dituangkan ke dalamnya, airnya pun akan ikut tercemar; demikian pula, jika hati manusia terbelenggu oleh kesombongan, takabur, hasad (iri dengki), dusta, ketamakan, dan akhlak tercela lainnya, maka ia tidak akan dapat memanfaatkan ilmu dan pengetahuannya dengan baik.

Ilmu yang Disertai Penyucian Diri, Menjadi Landasan bagi Petunjuk Masyarakat

Pakar keagamaan ini melanjutkan: Ilmu pengetahuan dapat menjadi faktor pertumbuhan dan petunjuk bagi manusia dan masyarakat apabila disertai dengan penyucian jiwa dan perbaikan akhlak. Ilmu yang dibarengi dengan ketakwaan dan pembersihan diri dapat menjadi pelita yang menerangi jalan manusia dan sarana untuk mengabdi kepada masyarakat.

Hujjatul-Islam Sayyid Riza Haidar Zaydi di akhir memanjatkan doa kepada Allah swt agar membersihkan hati-hati umat Islam dari kesombongan, takabur, hasad (iri dengki), ketamakan, dan segala kotoran akhlak lainnya, serta menganugerahkan kepada mereka kerendahan hati (tawadhu'), keikhlasan, dan semangat mengabdi kepada hamba-hamba Allah.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha